Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Serba-Serbi Terarium

Pernah kalian mendengar istilah terarium? Tahukah kalian produk yang satu ini ? Pada penulisan blog kali ini penulis akan mendeskripsikan sedikit tentang terarium.

Sejarah Terarium
George menyebutkan pada abad ke-19, Dr. Nathaniel Ward yang mengalami kesulitan dalam menjaga kesehatan pakis di luar ruangan akibat udara London yang tercemar saat itu, secara tidak sengaja melihat adanya tunas pakis yang tumbuh di tanah lembap dalam wadah kaca yang sebenarnya digunakan olehnya untuk melihat perkembangan kepompong serangga di dalamnya. Dr. Ward melihat adanya perputaran kelembapan udara dalam wadah kaca tersebut. Udara tersebut menguap ke atas wadah saat siang hari dan kembali ke bawah saat malam hari, melahirkan sebuah ekosistem sendiri. Dr. Ward kemudian mempublikasikan hasil penemuannya tersebut dan sering dikenal dengan sebutan the Wardian case, tetapi Ward sendiri menyebutnya dengan nama terarium [5].

Penemuan Ward ini digunakan untuk mengatasi kesulitan membawa sampel yang akan diteliti ke tempat lain yang jaraknya cukup jauh. Wardian case dapat menjaga sampel agar tetap dalam kondisi segar saat dipindahkan dari tempat asal ke tempat penelitian. Keluarga Kerajaan Inggris mengabadikan penemuan ini dengan membuat sebuah rumah kaca mini yang di dalamnya ditumbuhi 65 jenis tanaman pakis dan suplir (Kristiani, 2008) [5].

Pengertian Terarium
Terarium merupakan cara menaman tanaman hias asli yang dimasukan ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari kaca dengan media tanam berupa campuran tanah humus, pasir juga batu yang dilengkapi dengan bermacam-macam hiasan (Wisnuwati, 2007). Kemudian ada juga pendapat lain yang mengatakan terarium adalah beberapa Tanaman yang disusun dalam satu wadah (Cahayadi dan Ulung, 2015) [1].

Terarium dikenal sebagai tanaman yang ditanam dalam wadah kaca, dan biasanya berupa tanaman mungil. Pada awalnya tanaman yang digunakan dalam terarium terbatas hanya kaktus dan pakis, namun demikian seiring dengan perjalanan waktu, tanaman yang digunakan menjadi lebih bervariasi. Beberapa penelitian juga dilakukan, misalnya oleh Ani Kristiani yang melakukan modifikasi terhadap beberapa jenis tanaman yang akan digunakan. Selain tanaman, wadah dan media pun mengalami modifikasi seiring dengan kebutuhan terarium (Kristiani, 2002) [4].

Terdapat alat peraga yang dapat menjelaskan masalah pemanasan global, salah satunya adalah terarium. Menurut Mufliah, dkk. (2015), terarium merupakan suatu ekosistem darat yang dibentuk di dalam wadah tertutup baik ekosistem tanaman maupun hewan darat, biasanya terbuat dari wadah transparan berupa kaca maupun akrilik, dengan media tanam pasir, tanah, ataupun jeli yang dapat disesuaikan dengan jenis tanaman yang digunakan [2].

Jenis Terarium
Terarium dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu: [5]
  1. Terarium terbuka (dry terrarium) adalah terarium yang salah satu sisinya wadahnya terbuka. Terarium jenis ini membutuhkan banyak penyiraman daripada terarium tertutup (Container Gardening Ideas, n.d.). Terarium ini sangat cocok bagi tanaman yang memiliki sifat kering dan tidak tahan pada kelembapan udara yang tinggi (Property Consultant, 2015).
  2. Terarium tertutup (wet terrarium) adalah terarium yang cocok bagi tanaman yang memiliki ketahanan terhadap suhu dan kelembapan yang tinggi (Property Consultant, 2015). Perawatan terarium tertutup cenderung lebih mudah. Mereka tidak perlu membutuhkan cahaya matahari langsung dan penyiraman yang dilakukan tidak terlalu sering, akan tetapi sebaiknya penutup wadah dibuka seminggu sekali (Container Gardening Ideas, n.d.; Property Consultant, 2015)
  3. Terarium binatang (animal vivarium) adlah terarium yang lebih cocok bagi mereka yang menyukai binatang-binatang reptil seperti kadal, ular, kura-kura dan sebagainya. Terarium ini dapat menunjukkan ekosistem seperti habitat asli binatang reptil yang dipelihara. Desain dari terarium ini dapat berupa gurun, tropis, atau hutan tropis (Container Gardening Ideas, n.d.).
Permasalahan tentang Terarium
Permasalahan tentang perawatan herbarium, Nurhayati (2014) dalam Descullar, dkk (2016) sebagai berikut:
  1. Daun menguning
    • penyebab ⇨ drainase buruk, kurang subur
    • tindakan ⇨ perbaikan media, buka tutup wadah
  2. Pertumbuhan buruk
    • penyebab ⇨ drainase buruk, kurang subur
    • tindakan ⇨ ganti media, tambah bahan organik
  3. Daun seperti terbakar atau coklat
    • penyebab ⇨ kurang lembab, terkena matahari langsung
    • tindakan ⇨ tambah air, pindah ke tempat teduh
  4. Bau tidak sedap
    • penyebab ⇨ dekomposisi bahan organik, pupuk N kimia berlebih
    • tindakan ⇨ buka tutup wadah (ventilasi), tambah arang
  5. Daun layu
    • penyebab ⇨ media terlalu kering, terkena matahari langsung
    • tindakan ⇨ tambah air, pindah ke tempat teduh
  6. Daun busuk
    • penyebab ⇨ terlalu banyak air
    • tindakan ⇨ kurangi penyiraman, buang bagian tanaman busuk
  7. Berlumut di dekat media
    • penyebab ⇨ terlalu lembab
    • tindakan ⇨ bersihkan dengan kain basah

Manfaat Terarium
Terrarium dapat djadikan sebagai hadiah yang indah dan mengesankan, baik sebagai antaran (parcel) atau untuk memperindah ruangan hotel berbintang, karena membuat ruangan lebih natural, elegan, dan dipercayai mampu menyerap polusi serta radiasi alat–alat elektronik yang dapat mengakibatkan Sick Building Syndrome [1].

Bertanam terarium ini menjadi solusi yang murah dan mudah untuk mengantisipasi radiasi secara sederhana, penanamannya juga tidak memakan lahan yang besar, perawatannya pun mudah dan hemat air (Charina, dkk., 2012) [3].

Terarium digunakan untuk beberapa kebutuhan yaitu untuk penelitian, maupun sebagai dekorasi pengindah ruangan. Dalam bidang penelitian terarium merupakan ekosistem buatan yang fungsi biologisnya hampir mirip dengan yang dialam. Beberapa ekosistem yang dapat ditampilkan yaitu seperti ekosistem gurun, rawa, hutan, dan berbagai ekosistem lainnya [6].

Selain tanaman hias, tanaman yang dapat ditanam sebagai terarium adalah tanaman yang tumbuh liar disekitar kita seperti jenis paku-pakuan, lumut, dan rerumputan. Terarium juga tidak hanya dapat dilakukan oleh masyarakat desa sebagai sumber pendapatan. Terarium juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran biologi untuk masyarakat sekolah khususnya siswa. Terarium sebagai media dapat diaplikasikan pada materi keanekaragaman hayati. Selain sebagai media, terarium dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan wirausaha berbasis biologi [6].

Referensi:
  1. Pratama, Ridho & Kasiyati (2018). Efektivitas Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Keterampilan Terarium Bagi Anak Tunarungu. Jurnal Penelitian dan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Volume 6, Nomor I: 41-48. 
  2. Saputri, Virgyen Nia & Mita Anggaryani (2020). Pengembangan Terarium Biekosistem Pada Pemanasan Global Kelas XI SMA. IPF: Inovasi Pendidikan Fisika, Vol. 9, No. 2: 149-156.
  3. Amal, Citra Amalia, A. A. Amalia & S. Andayaningsih (2020). Potometrium (Pot Tanaman Geometris dan Terarium serta Pemasaran Digital Bagi Kelompok Penjual Tanaman Hias di Kelurahan Maccini Sombala Kota Makassar. Jurnal Panrita Abdi, Volume 4 (1): 110-118.
  4. Priambada, K. D. Bima (2017). Pemanfaatan Limbah Kayu Palet dalam Penciptaan Hiasan Terarium (journal.student.uny.ac.id).
  5. Descuellar, Seiki, D. T. Ardianto & Erandaru (2016). Perancangan Desain Kemasan Starter Kit Terarium Bagi Pemula. Jurnal DKV Adiwarna (publication.petra.ac.id).
  6. Mufliah, I. Mutia & Tumisem (2015). Pengembangan Terarium untuk Meningkatkan Kreativitas Masyarakat Sekolah dan Masyarakat Desa Kemutuglor Kecamatan Baturaden. Prosiding Semnas Sains & Entrepreneurship II, Halaman 450-455.
Dewanto
Dewanto Owner of this blog, He continued his study in Biology Education Department at Maritime Raja Ali Haji University. Besides, he actives on writing popular sciences articles in Warstek Media

Post a Comment for "Serba-Serbi Terarium"