Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Komponen dan Fungsi Lisosom

  Lisosom adalah organel yang unik. Juwono & Juniarto (2002: 49) menyatakan bahwa  organel ini baru ditemukan oleh Christian DeDuve pada tahun 1955 berdasarkan pemeriksaan-pemeriksaan secara biokimiawi dan tidak dapat dilihat jelas dengan menggunakan mikroskop cahaya. Dalam keadaan tidak aktif lisosom berbentuk bulat atau oval dengan diameter rata-rata 0,4 mikron dan jumlahnya dalam sel tidak tentu. Dalam Kimball (2017) disebutkan bahwa lisosom merupakan organel yang dihasilkan oleh apparatus golgi yang penuh dengan protein.

Poedjiadi (2009: 196) menyatakan bahwa lisosom adalah organel sel yang memiliki diameter antara 250-750 milimikron, berisi sejumlah besar partikel kecil dengan diameter berukuran 55-80 Angstrom. Dalam Kimball (2017) menyebutkan bahwa lisosom adalah organel yang dapat ditemukan dalam segala jenis sel hewan serta sampai sekarang belum ada bukti yang konklusif  bahwa lisosom juga terdapat pada sel-sel tumbuhan.

Di dalam lisosom terdapat enzim-enzim pencernaan atau penguraian yang bekerja secara hidrolisis, yaitu menguraikan molekul-molekul besar menjadi lebih sederhana. Dalam Juwono & Juniarto (2002) menyebutkan enzim-enzim hidrolitik yang dapat ditemukan dalam lisosom antara lain protease, nuklease, glikosidase, lipase, fosfolipase, fosfatase, dan lain-lainnya. Beberapa cara kerja dari lisosom dalam Poedjiadi (2009) sebagai berikut:

  1. Protein dihidrolisis menjadi asam-asam amino
  2. Glikogen dihidrolisis menjadi glukosa
  3. Lemak dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol
  4. Dalam sel yang mati, lisosom pecah dan menyebabkan enzim-enzim menuju sitoplasma yang menyebabkan  terjadinya proses penguraian sel-sel itu sendiri
  5. Dalam leukosit, lisosom berperan dalam perusakan sel-sel bakteri

lisosom dan enzim
Ilustrasi Lisosom dan Enzim Pencernaan [sumber: commons.wikimedia.org]

Enzim-enzim tersebut secara umum berfungsi untuk mencerna polisakarida, lipid, fosfolipid, asam nukleat dan protein yang semuanya terakumulasi di dalam organel ini. Dalam Juwono & Juniarto (2002: 49) menyatakan bahwa enzim-enzim ini dibuat oleh ribosom yang menempel pada retikulum endoplasma dan ditampun dalam retikulum endoplasma bergranula. Retikulum endoplasma ini kemudian kehilangan ribosomnya dan menjadi retikulum endoplasma yang tidak bergranula yang kemudian mendekati apparatus golgi dan berubah menjadi mikrovesikel yang akan menempel pada immature face dari apparatus golgi dan memindahkan isinya ke saccula.

Selain itu, Kimball (2017: 100) menyatakan bahwa lisosom juga berperan penting dalam matinya sel-sel. Bila sel luka atau mati, lisosom dapat menggantikan yang rusak tadi. Kematian sel merupakan tingkatan yang penting dalam daur hidup beberapa organisme. Sebagai contoh, pada waktu kecebong berubah menjadi katak, ekornya secara bertahap diserap. Sel-sel ekornya, yang kaya akan lisosom, mati dan hasil penghancurannya digunakan dalam pertumbuhan sel-sel baru katak yang berkembang.

Dalam Juwono & Juniarto (2002: 50) menyatakan bahwa lisosom primer yang berasal dari vesikel sekretoris akan melakukan 5 jenis kegiatan, yaitu:

  1. Mengeluarkan enzim dari dalam sel dalam proses sekresi
  2. Mengadakan difusi dengan mitokondria yang telah mati dan bertindak sebagai sitolisosom
  3. Mengadakan fusi dengan vesikel pinositosis
  4. Mengadakan fusi dengan fagosom
  5. Mengadakan fusi dengan lisosom lain untuk membentuk badan multivesikuler

Referensi:

  1. Juwono & A. Z. Juniarto (2002). Biologi Sel. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  2. Kimball, John W. (2017). Biologi Jilid 1. Edisi Kelima. Terjemahan H. Siti Soetarmi Tjitrosomo & Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
  3. Poedjiadi, Anna (2009). Dasar-Dasar Biokimia.  Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.


Dewanto
Dewanto Owner of this blog, He continued his study in Biology Education Department at Maritime Raja Ali Haji University. Besides, he actives on writing popular sciences articles in Warstek Media

Post a Comment for "Komponen dan Fungsi Lisosom"