Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perkembangan Taksonomi Tumbuhan Lumut (Bryophyta)

Adapun perkembangan taksonomi tumbuhan lumut (Bryophyta), sebagai berikut:

  • Braun (1864) merupakan orang pertama yang memperkenalkan istilah "Bryophyta" - termasuk semua kelompok algae, linchen dan lumut masuk ke dalam kategori bryophyta.
  • Eichler (1883) mengklasifikasi divisi Bryophyta (tumbuhan lumut) menjadi 2 kelas, yaitu:
    1. Hepaticae
    2. Musci
  • Engler (1892) berdasarkan sistem klasifikasi Eischler mengelompokkan kelas Hepaticae menjadi 3 ordo (bangsa), yang terdiri atas:
    1. Marchantiales
    2. Jungermanniales
    3. Anthocerotales
  • Pengelompokkan tumbuhan lumut (Bryophyta) seperti di atas telah banyak diikuti oleh para ahli botani termasuk Fritsch (1929), Bower (1935), Evans (1939) dan juga termuat dalam Syllabus der Pflanzenfamilien yang ditulis oleh Engler sendiri, Melchior & Werdermann (1954).
  • Underwood (1894) dan Gayet (1897) melakukan studi lebih lanjut terkait proses evolusi kelas Hepaticae dan menemukan adanya perbedaan mendasar dari bangsa Anthocerotales dengan 2 bangsa lainnya dari Hepaticae, yaitu Marchantiales dan Anthocerotales.
  • Atas perbedaan dasar tersebut (Smith, 1938, 1955; Takhtajan, 1953; Wardaw,1955; dan Schuster, 1958) memisahkan Anthocerotales dari kelas Hepaticae menjadi suatu kelas baru yang disebut Anthocerotae, sehingga kelas dari divisi Bryophyta menjadi:
    1. Hepaticae
    2. Anthocerotae
    3. Musci
  • International Code of Botanical Nomenclature pada tahun 1956 menyarankan penggantian akhiran beberapa tingkatan takson, yaitu:
    1. Akhiran " -opsida " untuk tingkatan kelas
    2. Akhiran " -idae " untuk tingkatan sub-kelas
  • Hal tersebut juga membuat Rothmaler (1951) memberikan saran untuk pergantian hal sebagaimana dimaksud oleh International Code of Botanical Nomenclature, yaitu:
    1. Hepaticopsida untuk istilah pada kelas Hepaticae
    2. Anthoceropsida untuk istilah pada kelas Anthocerotae
    3. Bryopsida untuk istilah pada kelas Musci
  • Proskauer (1957) menyarankan penamaan kelas Anthocerotae diubah menjadi Anthocerotopsida, sehingga sampai hari ini pada buku-buku sekolah menengah ke atas. Klasifikasi dari tumbuhan lumut terdiri atas:
    1. Hepaticopsida
    2. Anthocerotopsida
    3. Bryopsida
  • Sandra Holmes (1986) dalam bukunya yang berjudul Outline of Plant Classification,
  • Perkembangan mutakhir tentang klasifikasi tumbuhan lumut (Bryophyta) tidak berhenti begitu saja, melainkan menghasilkan perkembangan yang lebih maju

Klasifikasi Tumbuhan Lumut (Bryophyta)

Para ahli bryologi modern (termasuk Clarke & Duckett, 1979; Smith, 1982; Schuster, 1984; Rykovskii, 1987; Newton, et al., 2000; Shaw & Goffinet, 2000; Crum, 2001; Norris, 2003; Shaw & Renzaglia, 2004; Zander, 2006 dan Troitsky, et al., 2007) sepakat untuk menjadikan tumbuhan lumut (bryophyta) menjadi sub-kingdom, yang diberi nama "BRYOBIOTINA" yang diikuti oleh 3 phylum, yaitu:
  1. Marchantiophyta atau Lumut Hati (Liverworts/ Hepatophyta/ Hepaticophyta/ Hepaticae/ Hepaticopsida)
  2. Bryophyta atau Lumut Sejati (Mosses/ Mussci/ Bryopsida)
  3. Anthocerotophyta atau Lumut Tanduk (Hornworts/ Anthoceropsida/ Anthocerotae)
Melansir dari laman Britannica tentang Bryophyta ditulis oleh Wilfred Borden Schofield, Professor Botani di Bristish Columbia University, Bryophyta adalah istilah untuk tumbuhan tanpa biji nonvaskular, meliputi lumut sejati (Bryophyta), lumut tanduk (Anthocerotophyta), dan lumut hati (Marchantiophyta). Kebanyakan lumut tidak memiliki organisasi jaringan yang kompleks, tetapi memiliki keragaman yang cukup besar dalam bentuk dan ekologi. Mereka tersebar luas di seluruh dunia dan relatif kecil dibandingkan dengan kebanyak tanaman penghasil biji.

Phylum Marchantiophyta
Lumut hati di dunia diperkirakan berjumlah 7.500 enis (von Konrat dkk., 2010). Sampai tahun 2017, lumut hati di Indonesia diketahui sebanyak 849 jenis yang tersebar di pulau-pulau besar di Indonesia dengan jumlah tertinggi pada suku Lejeuneaceae sebanyak 304 jenis (Retnowati dkk, 2019). Berdasarkan data molekuler dan kajian genosistematika, HeNygren, et al. (2006) dikelompokkan secara detail dalam jurnal Cladistics, sebagai berikut:
        Kelas 1        Treubiopsida
                Sub-kelas        Treubiidae
                        Ordo        Treubiales
                Sub-kelas        Haplomitriidae
                        Ordo        Haplomitriales
        Kelas 2        Marchantiopsida
                Sub-kelas        Blastidae
                        Ordo        Blastiales
                Sub-kelas        Marchantiidae
                        Ordo        Sphaerocarpales, 
                                        Marchantiales
        Kelas 3        Jungermanniopsida
                Sub-kelas        Pelliidae
                        Ordo        Pelliales, 
                                        Fossombroniales
                Sub-kelas        Metzgeriidae
                        Ordo        Metzgeriales
                Sub-kelas        Jungermanniidae
                       Ordo        Pleuroziales, 
                                       Porellales, 
                                       Jungermanniales
Phylum Bryophyta
Keanekaragaman jenis lumut hati di dunia tercata sekitar 12.800 jenis (Crosby, Magil, Allen & He, 2000). Keanekaragaman jenis lumut sejati di Indonesia hingga tahun 2014 tercatat sebanyak 1.510 jenis (Widjaja dkk, 2014) dan pada tahun 2017 diketahui keanekaragaman lumut sejati sebanyak 1.844 jenis dengan penambahan 334 jenis dari tahun 2014 (Retnowati dkk, 2019). Berdasarkan analisis data genosistematika, Goffinet & Buck (2004) dalam Molecular Systematics of Bryophytes, mengelompokkan menjadi 8 kelas, yaitu:
  1. Takakiopsida
  2. Sphagnopsida
  3. Andreaopsida
  4. Andreaeopsida
  5. Oedipodiopsida
  6. Polytrichopsida
  7. Tetraphidopsida
  8. Bryopsida 
Phylum Anthocerotophyta
Menuru Gradstein (2011) dalam Retnowati, dkk (2019), lumut tanduk di dunia diperkirakan berjumlah 200 jenis. Jumlah jenis lumut tanduk sampai 2017 diketahui sebanyak 28 jenis dan terjadi penambahan dua jenis dari tahun 2014. Berdasarkan metode filogenetik molekuler, Duff et al. (2004, 2007) mengelompokkan menjadi 2 sub-kelas, yaitu:
  1. Anthocerotidae
  2. Notothylatidae

Referensi

  1. Retnowati, Atik, Rugayah, J. S. Rahajoe, & D. Arifiani (ed.) (2019). Status Keanekaragaman Hayati Indonesia: Kekayaan Jenis Tumbuhan dan Jamur Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
  2. Sharma, O. P. (2014). Series on Diversity of Microbes and Cryptogams (Bryophyta). New Delhi: McGraw Hill Education (India) Private Limited.
  3. www.britannica.com

Dewanto
Dewanto Owner of this blog, He continued his study in Biology Education Department at Maritime Raja Ali Haji University. Besides, he actives on writing popular sciences articles in Warstek Media

Post a Comment for "Perkembangan Taksonomi Tumbuhan Lumut (Bryophyta)"