Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Zoologi Invertebrata: Phylum Protozoa

Zoologi adalah ilmu yang mempelajari segala hal tentang dunia hewan. Dalam perkembangannya zoologi dikelompokkan menjadi zoologi invertebrata dan zoologi vertebrata untuk membatasi ruang lingkup kajian yang begitu luas. Zoologi invertebrata oleh Chevalier de Lamarck sebagai kajian tentang hewan-hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Invertebrata sendiri dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa filum antara lain: Protozoa, Porifera, Coelenterata hingga Arthropoda.

Adapun pada ulasan ini, penulis akan menjelaskan terkait dengan phylum protozoa yang perlu Anda ketahui. Pembahasan tentang phylum protozoa ini akan meliputi karakteristik, klasifikasi hingga peranannya dalam kehidupan.

Karakteristik Phylum Protozoa

    Istilah protozoa berasal dari bahasa Yunani, proto berarti pertama/sebelum dan zoon berarti hewan, sehingga secara terminologi bermakna sebagai "hewan pertama". Protozoa merupakan eukariot yang umumnya tersusun sebagai uniseluler. Menurut Pelczar & Chan (2008) bahwa jumlah protozoa diperkirakan lebih dari 64.000 spesies yang telah dikenal dengan rincian: 32.000 berupa fosil; 22.000 berupa hewan yang hidup bebas; dan 10.000 berupa hewan-hewan parasit pada makhluk hidup lain. Lain hal dengan Kimball (1991) menyebutkan bahwa istilah protozoa tidak lagi dapat digunakan dalam sebagai istilah taksonomik resmi tetapi lebih merujuk pada organisme kecil, bersel tunggal dan tidak memiliki klorofil (zat hijau fotosintetik).

Cara Makan Protozoa Secara Fagositosis
Cara Makan Protozoa Secara Fagositosis [Adaptasi dari Hickman, et al., 2017]

    Protozoa juga memiliki lokomosi (gerak alih) yang bervariasi. Hal ini jugalah yang menjadi patokan penting dalam klasifikasi. Dalam studi mengenai zoologi invertebrata terkait dengn hewan-hewan yang diklasifikasikan ke dalam  phylum ini mendapatkan pro dan kontra. Oleh ahli botani, sebagian dari protozoa ada yang menurut mereka sebagai bagian dari tumbuhan tingkat rendah (Cryptogamae) berdasarkan temuan adanya plastid dan klorofil a maupun b.

    Protozoa memiliki bentuk yang bervariasi, ada yang lonjong, membola, memanjang, tidak beraturan hingga polimorfik. Berbicara mengenai bentuk, protozoa memiliki suatu senyawa pembentuk lapisan yang disebut pelikel. Pelikel ini berperan dalam pemberian bentuk yang tetap pada protozoa. Protozoa juga memiliki ukuran kecil hingga yang bisa dilihat tanpa melakukan mikroskop. Ukuran kecil dapat dengan ukuran sekitar 1 µm, Amoeba proteus dengan kisaran 600 µm atau lebih, dan bahkan ada yang mencapai 2.000 µm atau setara 2 mm pada kelas siliata.

    Sel protozoa sendiri paling tidak memiliki 1 nukleus (inti), tetapi kebanyakan protozoa memiliki lebih dari 1 nukleus (inti), misalnya Paramecium caudatum yang memiliki mikronukleus dan makronukleus. Makronukleus berperan sebagai pengaturan pertumbuhan dan metabolisme sedangkan mikronukleus berperan sebagai pengendalian kegiatan reproduksi. Protozoa juga memiliki membran sitoplasma yang khusus tersusun atas ektoplasma dan endoplasma. 

Reproduksi Phylum Protozoa

    Protozoa dapat berkembang biak baik secara aseksual maupun seksual. perkembangbiakan secara aseksual (tak kawin) yaitu berupa pembelahan. Proses pembelahan ini dapat dikategorikan lagi berdasarkan jumlah sel anakannya, yaitu: (1) pembelahan biner dan (2) pembelahan bahu rangkap (multiple fussion). Pembelahan biner adalah pembelahan yang menghasilkan 2 sel anakan sedangkan pembelahan bahu rangkap adalah pembelahan yang menghasilkan banyak sel anakan (lebih dari 2 sel anakan). Selain itu, perkembangbiakan secara tunas juga terjadi pada beberapa kelompok kecil sebagai reproduksi aseksual. 

Pembelahan Biner Pada Protozoa [Adposi dari Pechenik, 2015]

    Protozoa yang berkembang biak secara seksual dilakukan secara konjugasi, yaitu penyatuan fisik sementara antara dua individu dibarengi dengan pertukaran bahan genetik yang hanya dapat dijumpai pada kelas siliata. Uniknya lagi, protozoa dalam perkembangbiakannya ada yang melibatkan perantara makhluk hidup lain untuk menuju hewan inang agar dapat melakukan siklus kehidupannya, misalnya Trypanosoma sp.

Tabel 1. (Klasifikasi Phylum Protozoa) [Adaptasi dari Pelczar & Chan, 2008]

Kelas Cara Gerak Reproduksi Tambahan
Flagellata (Mastigophora) Flagela (satu atau
banyak)
Pembelahan biner membujur, beberapa
ada yang reproduksi seksual
Nutrisinya fototropik, heterotroik
ataupun keduanya
Rhizopoda
(Sarcodina/Ameba)
Pseudopodia Pembelahan biner, tidak ada reproduksi
seksual
Dominan hidup bebas,
heterotrofik
Siliata (Ciliata) Rambut cetar (Silia)
banyak
Pembelahan biner melintang, reproduksi
seksual konjugasi
Dominan hidup bebas,
heterotrofik
Sporozoa Gerak Meluncur hingga
tidak bergerak
pembelahan bahu rangkap, kemungkinan
ada mikrogamet berflagela pada reproduksi
seksual
Semuanya hidup sebagai
parasit

Klasifikasi Phylum Protozoa

    Hewan-hewan yang dikelompokkan ke dalam phylum protozoa adalah hewan-hewan primitif yang umumnya merupakan organisme uniseluler. Pengelompokkan phylum protozoa dibedakan berdasarkan jenis alat geraknya sehingga tersusun 4 kelas utama, yaitu: (1) kelas flagellata; (2) kelas rhizopoda; (3) kelas siliata; dan (4) kelas sporozoa. 

KELAS FLAGELLATA

Kelas ini sangat identik dengan bergerak menggunakan alat geraknya yang tampak seperti bulu cambuk yang disebut flagela dalam jumlah satu ataupun lebih. 

Kelas Flagellata: Zooflagelata dan Fitoflagelata [Adaptasi dari Pechenik, 2015]
 

Beberapa anggota dari kelas ini, antara lain:

    1. Trypanosoma brucei-gambiense penyebab penyakit tidur di Afrika dengan perantara atau vektor lalat tse-tse Glossina palpalis
    2. Trypanosoma cruzi penyebab penyaki chagas 
    3. Trypanosoma evansi penyebab penyakit surra
    4. Trypanosoma lewisi parasit pada tikus dengan vektor kutu tikus
    5. Trichomonas vaginalis penyebab keputihan pada wanita
    6. Leishmania donovani penyebab penyakit kala-azar
    7. Leishmania tropica penyebab leishmaniasis
    8. Leishmania brasiliensis penyebab leishmaniasis
    9. Trichonympha campanula hidup simbiosis mutualisme dalam perut rayap
    10. Giardia lamblia penyebab penyakit giardiasis (diare akut dan kejang usus yang disebabkan terkontaminasi oleh feses penderita) 

KELAS RHIZOPODA/ SARCODINA

Kelas ini sangat identik dengan bergerak menggunakan aliran selnya ke dalam penonjolan sementara yang disebut pseudopodia atau disebut juga "kaki semu". Gerak-gerakan tersebut kita katakan sebagai gerak ameboid. Perkembangbiakan pada rhizopoda hanya dilakukan secara aseksual, yaitu pembelahan biner. Anggota-anggotanya dapat hidup dengan cara bebas di perairan tawar maupun laut, hidup parasit di dalam tubuh inang. 

 

Kelas Rhizopoda/Sarcodina/Ameba [Adopsi dari Hickman, et al., 2017]

Beberapa anggota dari kelas ini, antara lain:

    1. Amoeba proteus hidup bebas di daerah lembab
    2. Entamoeba gingivalis hidup di gusi dan gigi manusia 
    3. Foraminifera tersusun atas kalsium karbonat dan senyawa organik lain pada cangkangnya serta akan menjadi tumpukan sendimen ketika telah mati (yang akan digunakan sebagai petunjuk sumber minyak bumi), Contoh yang terkenal yaitu Globigerina.
    4. Radiolaria yang paling terkenal yaitu Collosphaera dan Acanthometron yang ketika sudah mati membentuk lumpur (akan dijadikan sebagai alat penggosok hingga bahan peledak)
    5. Entamoeba coli hidup di usus besar dan tidak bersifat parasit, tetapi apabila memakan makanan terkontaminasi mikroorganisme ini akan menyebabkan diare
    6. Entamoeba histolytica hidup parasit di usus manusia dan menyebabkan penyakit disentri
    7. Difflugia hidup di air tawar, menghasilkan lendir yang dapat melekatkan kumpulan pasir-pasir halus
    8. Arcella hidup di air tawar dengan cangkang yang tersusun atas kitin atau fosfoprotein 

KELAS SILIATA

Kelas ini atas uniseluler yang mikroskopis bahkan hingga ada yang bisa dilihat secara langsung oleh mata,

Kelas Siliata [Adopsi dari Hickman, et al., 2017]

Beberapa anggota dari kelas ini, antara lain:

    1. Paramecium caudatum hidup bebas di air sebagai predator bakteri dan protista lainnya
    2. Balantidium coli hidup parasit di usus besar hewan ternak dan manusia, penyebab diare balantidiasis
    3. Stentor roeseli berbentuk trompet yang dapat mudah ditemukan bebas di air sawah 
    4. Didinium sebagai predator Paramecium
    5. Vorticella memiliki bentuk lonceng dan memiliki tangkai panjang lurus atau spiral, dengan tangkai melekat pada suatu tempat
    6. Stylonchia banyak ditemukan bebas di genangan air rendaman daun

KELAS SPOROZOA 

Kelas ini sangat identik dengan tidak memiliki alat gerak dan dikenal melakukan pergerakan luncur. Uniknya lagi, seluruh anggota kelas ini merupakan parasit bagi makluk hidup dengan cara mengambil dan menyerap nutriennya. 

Beberapa anggota dari kelas ini, antara lain:

    1. Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika
    2. Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana
    3. Plasmodium ovale penyebab mirip dengan malaria tertiana
    4. Plasmodium malariae penyebab malaria kuartana 
    5. Toxoplasma gondii penyebab toksoplasmosis pada ibu hamil yang dapat menyebabkan cacat dan kematian janin dalam kandungan
Data Taksonomi Phylum Protozoa 
Sistem taksonomi di bawah ini merupakan kajian dengan landasan sistem perkembangan 2 kerajaan, yaitu Animalia dan Plantae saja, sehingga data-data di bawah ini bisa digunakan untuk mempelajari tentang taksonomi serta melihat latar belakang mengapa beberapa bagian ke depannya dikeluarkan dari kingdom Animalia (Invertebrata) dengan usulan kingdom baru, seperti protista, chromista, fungi, dll. Data taksonomi ini merupakan hasil kajian oleh Richard Roksabro Kudo (1931) yang berlandasan pada maha karya Butschli, dengan membagi phylum protozoa menjadi 2 sub-phylum, yaitu: Plasmodroma dan Ciliophora. Plasmodroma tersusun atas 3 kelas, yaitu Mastigophora, Sarcodina, dan Sporozoa. Di lain sisi, Ciliophora tersusun atas 2 kelas, yaitu Siliata dan Suctoria. Namun, perkembangan selanjutnya phylum ini disepakati hanya tersusun menjadi 4 kelas dengan faktor pembeda utama, yaitu alat gerak.

Peran Phylum Protozoa

Peranan dari phylum protozoa dapat kita lihat sangat beragam sepert yang telah diuraikan pada anggota tiap-tiap kelasnya. Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa peranan protozoa antara lain dapat sebagai:

  • Predator mikroorganisme lainnya seperti jenis protozoa lain, bakteri dan protista yang berfungsi untuk pengontrol populasi dalam ekosistem
  • Organisme simbiotik dengan beberapa makhluk hidup lain seperti rayap pemakan kayu
  • Parasit penyebab patogen (dapat menyebabkan penyakit bahaya bagi manusia)

Referensi:

  1. Kudo, R. R. (1931). Handbook of Protozoology. United States of America: Charles C. Thomas Publisher.
  2. Pechenik, Jan A. (2015). Biology of the Invertebrates. 7th. New York: McGraw-Hill Education.
  3. Hickman, C. P., et al. (2017). Integrated Principles of Zoology. 7th. New York: McGraw Hill Education.
  4. Kimball, J. W. (1991). Biologi Jilid 3. Terjemahan H. Siti Soetarmi Tjitrosomo & Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga. 
  5. Pelczar, M. J. & E. C. S. Chan (2008). Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Jakarta: UI-Press.
  6. Brusca, R. C., W. Moore & S. M. Shuster (2016). Invertebrates. 3rd. Massachusetts: Sinauer Associates, Inc.

Dewanto
Dewanto Owner of this blog, He continued his study in Biology Education Department at Maritime Raja Ali Haji University. Besides, he actives on writing popular sciences articles in Warstek Media

1 comment for "Zoologi Invertebrata: Phylum Protozoa"