Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Flipped Classroom dan Blended Learning sebagai Inovasi Pembelajaran Abad 21

Flipped Classroom
Pada ulasan ini, penulis akan membagikan informasi terkait dengan jenis pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai salah satu solusi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Selain itu jenis pembelajaran ini merupakan suatu inovasi pembelajaran di abad 21 yang perlu diketahui, dipelajari maupun dikembangkan oleh  guru dan calon guru. Jenis pembelajaran tersebut adalah Flipped Classroom dan Blended Learning.

Flipped Classroom

Penelitian-penelitian di bidang pendidikan banyak yang mendefinisikan bahwa flipped classroom merupakan bagian dari blended learning. Flipped classroom juga disebut sebagai inverted classroom atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah kelas terbalik. Flipped Classroom dipelopori oleh Jonathan Bergman dan Aaron Sams pada tahun 2007 dilatarbelakangi keilmuwan mereka sebagai tenaga pengajar (guru) di salah satu sekolah menengah setingkat SMA di Colorada, Amerika Serikat. Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa disebut sebagai kelas terbalik? Apa yang membedakan dengan kelas tradisional (pada umumnya sebagai face-to-face classroom)? Konsep yang dibentuk pada flipped classroom adalah apa yang biasanya siswa lakukan di kelas (sekolah) beralih dilakukan di rumah dan apa yang biasanya menjadi tugas pekerjaan rumah (seperti PR, latihan, maupun sejenisnya) diselesaikan di dalam flipped classroom.

Bagaimana Cara Mendesain Flipped Classroom?

Reidsema, et al. (2017)  menyatakan bahwa untuk mendesain flipped classroom hendaklah memperhatikan elemen-elemen penyusun flipped classroom. Menurutnya terdapat 7 elemen yang harus diperhatikan dalam desain flipped classroom, antara lain: 1) Context (internal); 2) Drivers (external); 3) Flip; 4) Outcomes; 5) Components; 6) Resources; dan 7) Evaluation. Perhatikan hubungan antar-elemen pendukung yang digunakan untuk menerapkan flipped classroom di bawah ini dengan seksama!
Elemen Pendukung Flipped Classroom
Elemen-Elemen Pendukung Penerapan Flipped Classroom [sumber: Reidsema, 2017]
Bergmann dan Sams (2012) mengilustrasikan perbedaan antara kelas tradisional tradisional dengan Flipped Classroom yang bisa dilihat pada tabel berikut ini. 
Perbedaan Flipped Classroom dengan Pembelajaran Tradisional
Perbedaan Kelas Tradisional dengan Flipped Classroom [sumber: Bergmann & Sams, 2012]

Mengapa Perlu Menerapkan Flipped Classroom

Bergmann & Sams dalam bukunya yang berjudul Flip Your Classroom: Reach Every Student In Every Class Everyday menjelaskan beberapa alasan mengapa kita perlu mencoba menerapkan Flipped Classroom, antara lain:
  1. Flipped Classroom menggunakan bahasa yang digunakan oleh siswa sehingga menjadi langkah yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan memperkecil miskonsepsi yang akan terjadi.
  2. Flipped Classroom membantu siswa yang memiliki banyak kesibukan (cth: mengikuti ekstrakurikuler dan kegiatan lainnya yang berada di lingkungan sekolah) sehingga tetap bisa mengikuti, mempelajari kembali seperti apa yang dipelajari oleh siswa lain.
  3. Flipped Classroom membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
  4. Flipped Classroom mendorong semua siswa dengan berbagai kemampuan belajar untuk unggul.
  5. Flipped Classroom membuat siswa dapat mengatur dan menjeda penjelasan guru bahkan diulang kembali.
  6. Flipped Classroom meningkatkan interaksi siswa dengan guru.
  7. Flipped Classroom membuat guru lebih mengenal siswa-siswanya dengan baik.
  8. Flipped Classroom meningkatkan interaksi siswa dengan siswa.
  9. Flipped Classroom menyelaraskan berbagai permasalahan belajar yang ada.
  10. Flipped Classroom mengubah sistem pengelolaan kelas.
  11. Flipped Classroom mengubah cara komunikasi dengan orang tua siswa.
  12. Flipped Classroom mengedukasi pada orang tua siswa.
  13. Flipped Classroom membuat kelas lebih transparan.
  14. Flipped Classroom sebuah metode yang tepat bagi guru yang tidak dapat hadir agar tetap dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran.
  15. Flipped Classroom dapat mendukung proses belajar tuntas (mastery learning)
Kelemahan dari flipped classroom antara lain siswa tidak bisa mengajukan pertanyaan secara langsung (direct-question) ketika pertanyaan tersebut muncul di pikiran siswa.

Blended Learning 

Blended learning oleh Reidsema, et al. (2017) dianggap sebagai sebuah perpaduan dari pembelajaran secara daring (online learning) dengan kegiatan pembelajaran tatap muka di kampus (on-campus face-to-face learning), sehingga blended learning dapat disebut juga sebagai pembelajaran campuran atau pembelajaran bauran. Blended learning atau pembelajaran campuran adalah sebuah pendekatan yang mengkoordinasikan sejumlah perangkat pembelajaran seperti perangkat elektronik yang dapat menampilkan media, pembelajaran berbasis web, yang dikolaborasikan dengan waktu (real-time) dengan sistem tatap muka (Uzunboylu & Karagozlu, 2015). Beberapa pengertian terkait dengan blended learning dalam Widiara (2018), antara lain:
  1. Blended learning is some mix of traditional classroom instruction (which in itself varies considerably) and instruction mediated by technology (John Merrow, 2012)
  2. Pembelajaran campuran (blended learning) merupakan program pendidikan formal yang memungkinkan siswa belajar (paling tidak sebagian) melalui konten dan petunjuk yang disampaikan secara daring (online) dengan kendali mandiri terhadap waktu, tempat, urutan, maupun kecepatan belajar (Staker, 2012);
  3. Blended learning merupakan suatu sistem belajar yang meemadukan antara belajar secara face to face (bertatap muka/klasikl) dengan belajar secara online (melalui penggunaan fasilitas/media internet) (Annisa, 2014); dan
  4. Blended learning merupakan sebuah strategi belajar mengajar yang bertujuan untuk mencapai pembelajaran dengan cara memadukan pembelajaran berbasis kelas/tatap muka dengan pembelajaran berbasis teknologi dan informasi yang dilakukan secara daring (online) (Widiara, 2018).
Praktik dari Blended Learning di Indonesia sendiri masih sebatas sebuah metode pembelajaran, mengingat masih terbatasnya akses internet di kelas maupun lembaga pendidikan sehingga belum bisa diterapkan secara penuh. Sementara itu menurut Carman (2005) bahwa untuk menerapkan blended learning terdapat 5 kunci utama, antara lain:
  1. Live event → pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama ataupun waktu sama tapi tempat berbeda;
  2. Self-Paced Learning → mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta didik belajar kapan saja;
  3. Collaboration → mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pendidikpeserta didik maupun kolaborasi antar peserta didik;
  4. Assesment → pendidik harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen online dan offline baik yang bersifat tes maupun non-tes (proyek kelas).
  5. Perfomance Support Materials → pastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, dapat diakses oleh peserta didik baik secara offline maupun online
tahapan blended learning
Tahapan Blended Learning [sumber: sibatik.kemendikbud.go.id]

Sutisna (2018) menyebutkan bahwa salah satu model pembelajaran blended learning dapat diterapkan dengan pembelajaran tatap muka yang menggunakan CD interaktif dan e-book dalam jaringan internet. Prasetyorini, dkk (2016: 50) menambahkan bahwa platform Course Networking (CN) juga memenuhi kriteria dari blended learning karena di dalamnya merupakan terdapat unsur e-learningPlatform Course Networking (CN) menawarkan pembelajaran berbasis interaksi sosial, bersifat terbuka (open source) dan tersedia gratis serta tersedia learning management system yang dapat mengakomodasi interaksi guru-siswa, maupun antarsiswa. Haughey (1998) dalam artikel mendeskripsikan ada 3 model yang dapat digunakan untuk melakukan pengembangan model pembelajaran campuran (blended learning), antara lain:
  1. Model Pengembangan Web Course yaitu  penggunaan Internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pendidik sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui Internet.
  2. Model Pengembangan Web Centric Course yaitu penggunaan Internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui Internet,dan sebagian lagi melalui tatap muka yang fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pendidik bisa memberikan petunjuk pada peserta didik untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Peserta didik juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pendidik lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui Internet tersebut.
  3. Model Pengembangan Web Enhanced Course yaitu pemanfaatan Internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Oleh karena itu peran pendidik dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di Internet, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui Internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Sutisna (2018) menyebutkan ada 3 peran tutor dalam blended learning dari segi teoritik maupun empirik, antara lain:
  1. Menumbuhkan kesadaran peserta didik sebagai pelaku pembelajar dan pentingnya mereka untuk meningkatkan kemandirian dalam belajar;
  2. Membantu peserta didik sebagai pembelajar untuk bisa mengembangkan potensinya, sesuai bakat dan minatnya; dan
  3. Meningkatkan kesadaran peserta didik akan pentingnya kualitas diri secara efisien agar mencapai prestasi.
Sutisna (2018) dalam penelitiannya untuk meningkatkan kemandirian belajar Pendidikan Kesetaraan Program Paket C dengan menggunakan media berupa e-book dan CD interaktif, mendeskripsikan langkah-langkah pelaksanaan blended learning yang dilaksanakannya, antara lain:
  1. Menyampaikan tujuan (kompetensi) yang akan dicapai;
  2. Mendeskripsikan materi secara singkat;
  3. Menjelaskan langkah-langkah penggunaan media (e-book dan CD interaktif) bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar pada peserta didik, mekanisme penggunaan media yang akan mendukung proses pembelajaran; dan
  4. Siswa melakukan pembelajaran mandiri.
Sintaks Blended Learning
Sintaks Blended Learning [sumber: sibatik.kemendikbud.go.id]
Pembelajaran campuran yang mengacu pda pembelajaran ICT terdiri atas 3 tahapan pembelajaran (sintaks), antara lain:
  1. Seeking of Information → Mencakup pencarian informasi dari berbagai sumber informasi yang tersedia secara online maupun offline dengan berdasarkan pada relevansi, validitas, reliabilitas konten dan kejelasan akademis. Pendidik atau fasilitator berperan memberi masukan bagi peserta didik untuk mencari informasi yang efektif dan efisien.
  2. Acquisition of Information → Peserta didik secara individu maupun secara kelompok kooperatif-kolaboratif berupaya untuk menemukan, memahami, serta mengkonfrontasikannya dengan ide atau gagasan yang telah ada dalam pikiran peserta didik, kemudian menginterprestasikan informasi/pengetahuan dari berbagai sumber yang tersedia, sampai mereka mampu mengkomunikasikan kembali dan menginterpretasikan ide-ide dan hasil interprestasinya menggunakan fasilitas
  3. Synthesizing of Knowledge → Mengkonstruksi/merekonstruksi pengetahuan melalui proses asimilasi dan akomodasi bertolak dari hasil analisis, diskusi dan perumusan kesimpulan dari informasi yang diperoleh.

Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning

Blended learning adalah salah satu model pembelajaran abad 21 yang terintegrasi dengan penggunaan teknologi dan sistem informasi, tetapi suatu model yang dikembangkan tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berikut kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran campuran/bauran (blended learning) menurut Widiara (2018), antara lain:

Kelebihan Blended Learning

  1. Penyampaian pembelajaran dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja dengan memanfaatkan sistem jaringan internet;
  2. Peserta didik memiliki keleluasaan untuk mempelajari materi atau bahan ajar secara mandiri dengan memanfaatkan bahan ajar yang tersimpan online;
  3. Kegiatan diskusi berlangsung secara online/offline dan berlangsung di luar jam pelajaran, kegiatan diskusi berlangsung baik antara peserta didik dengan guru maupun antar peserta didik itu sendiri;
  4. Pengajar dapat mengelola dan mengontrol pembelajaran yang dilakukan siswa diluar jam pelajaran peserta didik;
  5. Pengajar dapat meminta peserta didik untuk mengkaji materi pelajaran sebelum pembelajaran tatap muka berlangsung dengan menyiapkan tugas-tugas pendukung;
  6. Target pencapaian materi-materi ajar dapat dicapai sesuai dengan target yang ditetapkan;
  7. Pembelajaran menjadi luwes dan tidak kaku.

Kelemahan Blended Learning

  1. Pengajar perlu memiliki keterampilan dalam menyelenggarakan e-learning;
  2. Pengajar perlu menyiapkan waktu untuk mengembangkan dan mengelola pembelajaran sistem e-learning, seperti mengembangkan materi, menyiapkan assesment, melakukan penilaian, serta menjawab atau memberikan pernyataan pada forum yang disampaikan oleh peserta didik;
  3. Pengajar perlu menyiapkan referensi digital sebagai acuan peserta didik dan referensi digital yang terintegrasi dengan pembelajaran tatap muka;
  4. Tidak meratanya sarana dan prasarana pendukung dan rendahnya pemahaman tentang teknologi;
  5. Diperlukan strategi pembelajaran oleh pengajar untuk memaksimalkan potensi blended learning.

Referensi

  1. Bergmann, J. & A. Sams (2012). Flip Your Classroom: Reach Every Student In Every Class Everyday. USA: International Society for Technology in Education.
  2. Prasetyorini, H., Mustaji & B. S. Bachri (2016). Pengembangan Materi Pelajaran IPA dalam Platform Course Networking sebagai Media Pembelajaran Secara Blended Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Kolaborasi Peserta Didik. Jurnal Pendidikan, Volume 1(1): 49-57.
  3. Reidsema, C., L. Kavanagh, R. Hadgraft & N. Smith (Eds). (2017). The Flipped Classroom: Practice and Practices in Higher Education. Singapore: Springer Nature Singapore Pte Ltd. 
  4. Hendarita, Y. (Tidak Diketahui). Model Pembelajaran Blended Learning dengan Media Blog. URL: Sibatik.kemendikbud.go.id diakses 25 November 2020
  5. Sutisna, A. (2018). Pengembangan Model Pembelajaran Blended Learning pada Pendidikan Kesetaraan Program Paket C dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar. Jurnal Teknologi Pendidikan, 18 (3): 156-168.
  6. Uzunboylu, H. & Karagozlu, D. (2015). Flipped Classroom: A Review of Reason Literature. World Journal on Educational Technology, 7(2), 142-147.
  7. Widiara, I. K. (2018). Blended Learning sebagai Alternatif Pembelajaran di Era Digital. Purwadita, Volume 2 (2): 50-56.
Dewanto
Dewanto Owner of this blog, He continued his study in Biology Education Department at Maritime Raja Ali Haji University. Besides, he actives on writing popular sciences articles in Warstek Media

Post a Comment for "Flipped Classroom dan Blended Learning sebagai Inovasi Pembelajaran Abad 21"