Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Biologi Kelas 10 | Pengantar Kerajaan Jamur (Fungi)

Konten [Tampil]
Pada ulasan ini, penulis akan menguraikan materi pembelajaran biologi kelas 10 dengan topik kerajaan jamur atau Fungi. Fungi adalah salah satu biodiversitas yang perlu kita pelajari untuk mengetahui struktur, sifat, reproduksi, jenis hingga peranannya bagi kehidupan manusia. Namun, sebelum membahas lebih lanjut terkait dengan pengelompokkannya kita akan mendeskripsikan terlebih dahulu kerajaan yang satu ini.

A. Pengertian

  • Kata fungi diambil dari bahasa latin, yaitu fungus merujuk pada kelompok jamur-jamuran
  • Terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan jamur dalam bahasa Indonesia, misalnya khamir, kapang, cendawan dan ragi
  • Ilmu yang mempelajari khusus mengenai jamur disebut mikologi.
Saccharomyces cerevisiae salah satu jamur mikroskopis
Saccharomyces cerevisiae salah satu jamur mikroskopis

B. Ukuran

  • Jamur terdiri dari ukuran mikroskopis yang perlu bantuan alat mikroskop hingga ukuran makroskopis.
  • Jamur mikroskopis umumnya disebut ragi dan khamir karena terdiri dari satu sel (uniseluler), misalnya Saccharomyces cerevisiae yang dapat mengubah senyawa karbohidrat menjadi alkohol (etanol) dapat diterapkan pada pembuatan tapai (terjadi proses fermentasi/ respirasi anaerob).
  • Jamur makroskopis umumnya disebut kapang atau cendawan karena terdiri atas banyak sel (multiseluler), misalnya Volvariella volvacea atau jamur merang yang dapat dijadikan sebagai bahan konsumsi tinggi protein.
Amanita sp. merupakan jamur makroskopis dengan corak yang kontras dan menarik
Amanita sp. merupakan jamur makroskopis dengan corak yang kontras dan menarik

C. Bentuk dan Warna

  • Jamur memiliki bentuk yang bervariasi mulai dari payung, oval, bulat, pipih, bercak-bercak, embun tepung (mildew), untaian benang seperti kapas, kancing baju, menyerupai telinga manusia, hingga berbentuk seperti mangkok.
  • Jamur menyerupai telinga manusia dan pipih dapat dijumpai pada Auricularia polytricha
  • Jamur berbentuk setengah lingkaran dijumpai pada Ganoderma applanatum
  • Jamur berbentuk oval dijumpai pada jamur uniseluler, Saccharomyces cerevisiae
  • Jamur berbentuk payung dijumpai pada Volvariella volvacea
  • Jamur berbentuk bulat dijumpai pada Calvatia gigantea
  • Jamur berbentuk untaian benang seperti kapas dijumpai pada Rhizopus oryzae
  • Jamur juga memiliki perawakan atau tampilan warna yang bermacam-macam, ada yang putih-kecoklatan, coklat-kehitaman, bahkan hingga warna-warna kontras seperti merah ditemukan pada Amanita sp.

D. Struktur Tubuh 

  • Sel-sel jamur merupakan jenis eukariotik, artinya telah memiliki membran inti yang memisahkan materi genetik dengan cairan sitoplasma.
  • Dinding sel tumbuhan tersusun atas kitin.
  • Kitin merupakan polimer dari N-asetil glukosamina (NAG)
  • Kitin merupakan polisakarida yang mengandung unsur N, bersifat kuat, tetapi fleksibel.
  • Jamur tidak dapat melakukan fotosintesis karena tidak ditemukan pigmen klorofil (zat hijau daun), maupun organel-organel pelaksana fotosintesis.
  • Jamur tidak mencerna makanan di dalam tubuh, meskipun hidup sebagai heterotrof tetapi dengan cara absorpsi (absorption) yaitu dengan cara menyerap nutrisi ataupun unsur-unsur organik yang dibutuhkan, tetapi beberapa kelompok jamur primitif (lower groups) memperoleh makanan dengan cara ingesti (ingestion) yaitu dengan menelan.
  • Kimball (1991) menambahkan bahwa fungi akan menyekresikan enzim-enzim hidrolitik ekstraseluler ke sekitarnya untuk mempercepat proses absorpsinya
Kitin sebagai Bahan Penyusun Dinding Sel Jamur
  • Sel-sel pada jamur makroskopis umumnya memanjang menyerupai benang disebut hifa.
  • Hifa yang bercabang-cabang tumbuh dan berkembang membentuk suatu jaringan disebut miselium.
  • Jalinan dari miselium akan membentuk tubuh buah.
  • Hifa pada jamur tersusun atas kumpulan sel-sel yang membentuk seperti benang yang memanjang. Struktur hifa ini ada yang bersekat dan juga tidak bersekat.
  • Hifa bersekat/ septa/ asoenositik sehingga terdapat pembatas antarsel penyusun dan terdapat pori yang memungkinkan proses aliran antarsel.
  • Hifa tidak bersekat/ asepta/ soenositik menyebabkan seperti kumpulan massa yang memiliki banyak nukleus.
Perbedaan Hifa Bersekat (Septum) dengan Hifa Tidak Bersekat
  • Jamur yang hidup sebagai parasit memiliki hifa modifikasi yang disebut haustorium yang dapat menembus jaringan inang sebagai bentuk untuk menyerap sari makanan. alat modifikasi ini juga disebut sebagai miselium vegetatif.
  • Selain itu, terdapat miselium yang terdiferensiasi untuk menghasilkan spora disebut miselium generatif.
Penampakan Haustorium yang Menembus Jaringan Daun 
  • Cadangan makanan terdapat glikogen, lemak, kadang-kadang juga manit dan ureum.
  • Kimball (1991) menyebutkan bahwa pada fungi yang ditemukan di perairan, sporanya memiliki flagela yang membantu proses berenang di dalam air. Flagela tersebut hanya akan bertahan sampai ketika terjadi proses germinasi.

E. Cara Hidup

  • Jamur sebagai organisme heterotrof artinya tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, sehingga ia memproleh makanan dari lingkungan sekitarnya. Cara hidup jamur antara lain sebagai saprofit (pengurai), parasit dan simbiosis.
  • Jamur saprofit mendapatkan energi dengan cara menguraikan organisme-organisme yang telah mati dapat berupa dedaunan kering hingga bangkai tumbuhan ataupun hewan. Jamur jenis ini merupakan saproba atau organisme yang berperan sebagai pengurai dalam ekosistem. Fungsinya yaitu sebagai penyeimbang ekosistem hingga sebagai indikator ekologi.
  • Jamur parasit berupa jamur yang menyerap nutrisi dari tubuh organisme lain yang ditumpanginya sebagai inangnya. Jamur-jamur parasit ini dapat menyebabkan patogenitas pada tubuh inang yang ditumpanginya, misalnya Pneumonia carinii yang menginfeksi paaru-paru pada penderita AIDS.
  • Jamur simbiosis mutualisme merupakan suatu hubungan timbal balik yang dilakukan oleh jamur dengan beberapa jenis organisme. Hal ini dapat terjadi pada lichenes (lumut kerak) maupun pembentukan mikoriza.

F. Habitat

  • Habitat jamur ditentukan dengan cara hidupnya
  • Jamur pada hakikatnya tumbuh di daerah-daerah yang lembab
  • Jamur saproba dapat ditemukan di daerah kayu-kayu lapuk, tanah-tanah yang kaya humus, daerah lembab
  • Jamur parasit ditemukan dalam di berbagai jaringan tubuh inang yang ditumpanginya, misalnya pada kulit, organ tubuh dan lainnya
  • Jamur simbiosis (lichenes) memiliki distribusi daerah-daeah yang bersifat ekstrem, misalnya daerah kutub dingin, gurun yang panas, bebatuan hingga menempel di pohon-pohon

G. Reproduksi 

  • Jamur dapat bereproduksi secara generatif maupun vegetatif
  • Alexopoulos & Mims (1979) menyebutkan jamur bereproduksi secara vegetatif dengan cara (1) fragmentasi; (2) pembelahan; (3) tunas; dan (4) pembentukan spora 
    1. Fragmentasi (fragmentation) adalah proses pemutusan hifa yang terpisah kemudian masing-masing hifa akan tumbuh menjadi jamur baru.
    2. Pembelahan (fissionadalah  dilakukan pada jenis jamur uniseluler. Proses pembelahan dapat terjadi secara biner ataupun bahu rangkap. Pembelahan biner yaitu menghasilkan 2 sel anakan sedangkan pembelahan bahu rangkap menghasilkan lebih dari 2 sel anakan.
    3. Tunas (budding) adalah  proses muncul suatu bagian kuncup dari jamur kemudian menjadi individu baru.
    4. Pembentukan spora (spore formation)
Spora Aseksual dan Spora Seksual 
  • Jamur bereproduksi secara generatif dengan cara peleburan gamet jantan 
  • Mekanisme reproduksi generatif jamur secara umum terdiri dari 3 tahapan, yaitu: (1) plasmogamy; (2) kariogamy; dan (3) pembelahan meiosis.
    1. Hifa (+) dan hifa (-) berdekatan membentuk gametagium atau organ yang menghasilkan sel gamet. Baik hifa (+) maupun hifa (-) dalam bentuk haploid (n)
    2. Gametangium mengalami plasmogamy (peleburan sitoplasma) membentuk sporangium (kotak spora) dengan pasangan nukleus haploid yang belum menyatu. Sporangium (kotak spora) tersusun atas dinding yang tebal dan kasar berfungsi untuk pertahanan terhadap kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan atau ekstrem
    3. Pada kondisi yang tepat, Kariogamy (peleburan inti) akan dilanjutkan sehingga kotak spora sekarang telah memiliki inti diploid (2n)
    4. Inti diploid (2n) akan mengalami pembelahan meiosis (pembelahan reduksi) sehingga menghasilkan spora seksual haploid (n)
    5. Spora seksual (n) tinggal menunggu tempat yang cocok untuk bisa melakukan proses germinasi spora.
  • Pelczar & Chan (2008) menyebutkan spora seksual pada jamur terdapat beberapa jenis, antara lain:
    1. Askospora adalah  spora bersel satu yang tumbuh di atas pundi/kuncup yang disebut askus. Umumnya akan terdapat delapan askospora di dalam setiap askus.
    2. Basidiospora  adalah spora bersel satu yang tumbuh di atas struktur berbentuk gada yang disebut basidium
    3. Zigospora adalah spora yang memiliki ukuran besar serta berdinding tebal. Selain itu, terbentuk apabila ujung antar-dua hifa serasi. Proses ini disebut gametangium.
    4. Oospora adalah spora yang terbentuk struktur betina yang disebut oogonium. Proses pembuahan telur ini dikenal dengan istilah oosfer yang terbentuk di dalam anteridium.

H. Klasifikasi

Klasifikasi jamur memiliki banyak cara yang digunakan. Klasifikasi mutakhir yang dilakukan oleh Hibberty, dkk (2007) dalam Retrowati, dkk (2019) yaitu terdiri atas 7 filum, antara lain: Chytridiomycota, Neocallimastigomycota, Blastocladiomycota, Microsporidia, Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota. Akan tetapi dalam ulasan ini penulis menguraikan klasifikasi kerajaan jamur berdasarkan reproduksi generatifnya, yant terdiri atas 4 divisi, antara lain:
  1. Zygomycota
  2. Ascomycota
  3. Basidiomycota
  4. Deuteromycota

Referensi

  1. Sharma, O. P. (2011). Diversity of Microbes and Cryptogams: Fungi and Allied Microorganisms. New Delhi: Tata McGraw Hill Education Private Limited.
  2. Tjitrosoepomo, G. (2014). Taksonomi Tumbuhan: Schizophyta, Thallophyta; Bryophyta, Pteridophyta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  3. Pelczar, M. J. & E. C. S. Chan (2008). Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Jakarta: Universitas Indonesia.
  4. Irnaningtyas (2014). Biologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
  5. Retrowati, A, dkk (2019). Status Keanekaragaman Hayati Indonesia: Kekayaan Jenis Tumbuhan dan Jamur Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
  6. Kimball, J. W. (1991). Biologi Jilid 3. Edisi Kelima. Terjemahan H. S. S. Tjirtosomo & N. Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Dewanto
Dewanto S-1 Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji

Post a Comment for "Biologi Kelas 10 | Pengantar Kerajaan Jamur (Fungi)"